Sejak awal 2026, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja yang semakin menguat, membuka peluang lebih besar bagi produk bernilai tambah untuk masuk ke pasar global. Peningkatan ekspor ini didorong oleh inovasi dalam produksi dan kualitas produk yang memenuhi permintaan pasar internasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar, dengan sektor manufaktur sebagai pendorong utama. Pada bulan yang sama, ekspor manufaktur mengalami peningkatan 8,19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor nonmigas, yang mencakup produk manufaktur seperti tekstil, produk elektronik, dan makanan olahan, mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Menurut laporan BPS, sektor ini menunjukkan kontribusi terbesar dalam total ekspor Indonesia pada 2026.

Secara global, laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google dan Temasek mencatatkan bahwa ekonomi digital Indonesia akan mencapai 90 miliar dolar AS pada 2024, memberikan kesempatan lebih banyak bagi industri manufaktur Indonesia untuk memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran dan distribusi produk.

Bagi masyarakat, sektor manufaktur yang berkembang ini membuka peluang kerja baru, terutama bagi tenaga kerja terampil yang dibutuhkan dalam industri elektronik, tekstil, dan produk makanan olahan. Pemerintah telah menempatkan penguatan sektor manufaktur sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi digital nasional.

Kebijakan pemerintah yang mendukung peningkatan ekspor dan inovasi dalam sektor manufaktur akan memberikan dampak jangka panjang bagi perekonomian Indonesia. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki kualitas produk agar dapat bersaing di pasar internasional.