Tangerang, 30 April 2026 – Bagi masyarakat lokal, cumi-cumi dan gurita mungkin hanya dianggap sebagai menu seafood biasa yang mudah ditemukan di pasar tradisional atau warung tenda pinggir jalan. Namun, di pasar internasional—khususnya Uni Eropa—kedua komoditas ini adalah “emas cair” yang sangat diburu.
Indonesia kini tercatat sebagai salah satu pemasok utama cumi dan gurita untuk negara-negara seperti Italia, Spanyol, dan Yunani. Lantas, apa yang membuat hasil laut kita begitu spesial di mata konsumen Eropa yang dikenal memiliki standar sangat ketat?
1. Tekstur dan Kualitas Premium
Perairan Indonesia yang terletak di wilayah tropis menghasilkan cumi dan gurita dengan karakteristik unik. Cumi-cumi kita, seperti jenis Loligo, dikenal memiliki daging yang lebih empuk dan rasa yang lebih gurih dibandingkan hasil tangkapan dari perairan dingin. Begitu juga dengan gurita (Octopus cyanea) asal perairan karang Indonesia yang memiliki tekstur kenyal namun tetap lembut, sangat cocok untuk hidangan fine dining di Eropa.
2. Standar Keamanan Pangan yang Terjaga
Masuk ke pasar Uni Eropa bukanlah perkara mudah. Mereka memiliki standar keamanan pangan (food safety) dan ketertelusuran (traceability) yang sangat tinggi. Keberhasilan cumi dan gurita Indonesia menembus pasar ini membuktikan bahwa unit pengolahan ikan di Indonesia telah mampu memenuhi standar global, mulai dari bebas kontaminasi logam berat hingga proses pembekuan yang menjaga kesegaran (IQF – Individually Quick Frozen).
3. Tren Konsumsi Makanan Sehat di Eropa
Masyarakat Eropa kini semakin sadar akan kesehatan dan mulai beralih dari daging merah ke protein laut. Cumi dan gurita menjadi pilihan utama karena rendah lemak, kaya akan Omega-3, dan mengandung mineral penting seperti zat besi dan selenium. Permintaan yang melonjak ini menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis karena mampu menyuplai dalam jumlah besar sepanjang tahun.
4. Komitmen Terhadap Perikanan Berkelanjutan
Eropa sangat peduli terhadap isu lingkungan. Saat ini, banyak produk gurita dari wilayah Indonesia (seperti dari Sulawesi dan Nusa Tenggara) yang mulai menerapkan praktik perikanan berkelanjutan dan mendapatkan sertifikasi internasional. Hal ini menjadi nilai tambah yang membuat pembeli di Uni Eropa lebih memilih produk Indonesia dibandingkan negara pesaing lainnya.
5. Fleksibilitas Produk Pengolahan
Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah. Banyak perusahaan lokal yang kini mengekspor dalam bentuk olahan, seperti octopus ball, cumi kupas bersih, hingga potongan tentacle siap masak. Inovasi ini sangat diminati oleh industri kuliner di Eropa karena kepraktisannya (ready-to-cook), yang pada akhirnya meningkatkan nilai tambah (value-added) bagi eksportir kita.
Potensi Ekonomi yang Menjanjikan
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor cumi, sotong, dan gurita terus mengalami tren positif. Uni Eropa merupakan pasar premium yang berani membayar harga tinggi untuk kualitas yang sepadan. Ini adalah peluang besar bagi nelayan kecil dan pelaku usaha perikanan Indonesia untuk terus naik kelas.
Kesimpulan
Cumi dan gurita Indonesia bukan sekadar menu pelengkap, melainkan duta kuliner laut kita di panggung dunia. Dengan terus menjaga kualitas dan kelestarian ekosistem laut, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pemain nomor satu dalam industri cephalopoda global. Jadi, jangan sepelekan lagi potensi laut kita!
Baca juga : Peluang Ekspor Keripik Singkong, Strategi Menembus Pasar Camilan Sehat Dunia

