Tangerang, 17 April 2026 – Ekspor arang Indonesia pada April 2026 menunjukkan tren peningkatan seiring meningkatnya permintaan global terhadap sumber energi alternatif dan bahan bakar ramah lingkungan. Produk arang, khususnya arang kayu dan briket, menjadi komoditas penting dalam ekspor nonmigas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produk hasil hutan dan turunannya, termasuk arang, masih berkontribusi dalam struktur ekspor nasional. Permintaan terhadap arang relatif stabil, terutama dari negara yang membutuhkan bahan bakar alternatif untuk industri dan rumah tangga.
Secara global, World Bank menyebutkan bahwa energi berbasis biomassa, termasuk arang, menjadi salah satu solusi dalam mendukung transisi energi di negara berkembang. Selain itu, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa penggunaan arang meningkat sebagai alternatif bahan bakar di beberapa kawasan.
Dari sisi pasar, arang Indonesia dikenal memiliki kualitas yang baik dan digunakan dalam berbagai kebutuhan, seperti industri makanan, restoran, hingga sektor energi. Permintaan ini turut mendorong peningkatan produksi di dalam negeri.
Dampak terhadap masyarakat terlihat dari meningkatnya peluang usaha di sektor pengolahan arang serta distribusinya. Aktivitas ini juga mendukung pendapatan masyarakat di daerah penghasil kayu dan hasil hutan.
Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan ekspor arang melalui penguatan standar kualitas, pengelolaan sumber daya berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas produksi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya saing produk di pasar global.
Ke depan, ekspor arang Indonesia diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan permintaan global terhadap energi alternatif serta kebutuhan industri terhadap bahan bakar yang efisien dan terjangkau.

